Yossy Suparyo
Ikuti:

persiapan pembuatan film musyawarah desa di desa wlahar wetan

Desa membuktikan diri sebagai peletak dasar demokrasi asli. Rembug Desa menjadi ruang bagi beragam unsur masyarakat untuk merumuskan isu-isu strategis di wilayahnya. Jauh dari pendekatan demokrasi prosedural, Rembug Desa justru memberikan ruang yang luwes dan luas bagi warga untuk terlibat, tak terkecuali kelompok rentan dan terpinggirkan.

Desa Wlaharwetan, Kalibagor, Banyumas akan mendokumentasikan praktik Rembug Desa, disebut Musyawarah Desa dalam UU No 6 tahun 2014, dalam sebuah film dokumenter. Film itu akan menunjukkan proses penyelenggaraan Musyawarah Desa, mulai dari persiapan, penyelenggaraan, hingga tindaklanjut hasil-hasilnya.

Gagasan untuk mendokumentasikan Musyawarah Desa disampaikan oleh Dodiet Prasetyo, Kepala Desa Wlahar Wetan. Gagasan itu dia bagi ke para mitranya di Gerakan Desa Membangun (GDM). Mereka menyambut antusias ide tersebut, termasuk saat Dodiet mempersiapkan tetek-bengek untuk mewujudkannya. Situadi itu membuat Kades muda itu makin bersemangat.

Persiapan awal adalah menyiapkan storyboard film. Ada tiga mahasiswa jurusan komunikasi yang tengah menjadi relawan dari Gedhe Foundation mengajukan diri sebagai tim kerja. Para mahasiswa mempelajari kegiatan dan piranti pendukung penyelenggaraan Musyawarah Desa. Hasilnya, storyboard film dapat dirampungkan.

syuting film dokumenter musyawarah desa wlahar wetan

Berbekal storyboard di atas, tim Pemerintah Desa dan Gedhe Foundation menyusun skenario film. Dalam pembuatan film, tantangan utamanya adalah target telah berubah. Film tak sekadar merekonstruksi penyelenggaraan Musyawarah Desa, tapi dia dapat menjadi bahan rujukan bagi desa-desa lain dalam penyelenggaraan forum permusyawaratan tertinggi di desa itu.

Wuih, tim bekerja keras. Dodiet bolak-balik, Wlaharwetan-Sumampir (sekretariat Gedhe) untuk sekadar ngopi bareng dan berdiskusi. Tak disangka, mitra baru muncul. Impro, sebuah rumah produksi film di Jakarta, tengah menggarap video Inspirasi Desa. Mereka butuh topik atau bahan yang dapat diproduksi film yang mampu menggugah desa untuk bergerak.

Akibat jarak yang cukup jauh, langkah komunikasi Impro dan Desa Wlaharwetan dilakukan melalui vide conference. Dalam obrolan itu, Impro tertarik pada tiga gagasan penting dalam penyelenggaraan Musyawarah Desa di Wlahar Wetan, yaitu representasi, akurasi data, dan inklusi sosial. Akhirnya Senin (7/3), jumpa darat dilakukan di Purwokerto, sembari survei lokasi ke Wlaharwetan.

Akhirnya, kerjasama produksi film mereka disepakati. Jadwal kerja dan pembagian tugas disusun oleh Gedhe, Pemdes Wlaharwetan dan Impro. Pengambilan gambar akan berlangsung empat hari, 22-25 Maret 2016. Ketiganya bertekad untuk menunjukkan desa punya cara dalam berdemokrasi, yaitu Rembug Desa. Tekad itu yang menjadi alasan itu pembuatan film dokumenter.

%d blogger menyukai ini: