Yossy Suparyo
Ikuti:

Dunia pendidikan kita tengah memasuki era baru. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) semakin menarik, terlebih dengan adanya dukungan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Penyebarluasan ilmu pengetahuan akan semakin cepat dan mudah berkat sistem pengajaran elektronik (e-learning), metode ini melengkapi pola KBM konvensional.

Departemen Pendidikan Nasional meluncurkan Proyek Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas) di mana teknologi interkoneksi (internet) dapat dimanfaatkan di sekolah-sekolah. Namun penerapan TIK di dunia pendidikan tidak semulus yang dibayangkan. Program Jardiknas, misalnya, cukup rakus dan menyedot dana yang besar untuk pos belanja sistem operasi (operating system) ataupun aplikasinya.

Akhirnya, sebagian besar sekolah memilih untuk menggunakan produk bajakan (pirates software). Tindakan pembajakan di lembaga pendidikan tentu sangat ironis. Apapun alasannya, pembajakan merupakan tindakan kriminal dan pelanggaran hukum.

Untuk menyiasati keterbatasan dana, penggunaan perangkat lunak bebas dan sumber terbuka (Free and Open Source Sofware atau FOSS) menjadi jalan keluar yang tepat. FOSS merupakan sistem operasi yang bebas atau gratis (free) dan terbuka bagi siapa saja yang ingin mengembangkannya (open source).

FOSS juga tidak mengenal istilah virus, sebab sistem ini dikerjakan secara kolaboratif oleh jutaan ilmuwan komputer di seluruh dunia. Tak berlebihan sejumlah kalangan mengacungkan jempol pada FOSS untuk urusan kekuatan dan keandalan.

Mungkinkah kita menggunakan FOSS di sekolah? Jelas mungkin. FOSS sangat andal sekaligus murah sehingga keluhan akan keterbatasan dana dapat dikurangi. Para guru dan siswa di Indonesia juga dapat terlibat aktif pengembangan FOSS untuk tujuan dan keperluan yang spesifik. Pendekatan ini dapat mengakselerasi perkembangan dan rekayasa teknologi di negeri ini.

Kesalahan KBM komputer selama ini adalah guru sering mengenalkan produk (merk), bukan subtansi. Guru mengenalkan Windows, bukan mengenalkan sistem operasi. Akibatnya, para siswa banyak mempelajari merek dagang daripada fungsi dan kegunaan kerja piranti lunaknya.

Andai guru mampu mengajarkan substansi maka dunia pendidikan akan sadar bahwa kebiasaan menggunakan perangkat lunak berpemilik (propertary) akan menciptakan ketergantungan. Ketergantungan merupakan sifat yang bertolak-belakang dengan hakikat pendidikan itu sendiri.

Dalam platform FOSS tersedia sejumlah aplikasi yang memiliki fungsi serupa dalam plafform Windows. Untuk aplikasi perkantoran tersedia Open Office, untuk aplikasi grafis ada GIMP, Inkscape, Scribus, dan untuk aplikasi audio-video ada XMMS, Audacity, Audacious, Amarok, Kafeein, dan untuk animasi ada Blender. Bahkan, guru dapat menggunakan aplikasi yang sangat spesifik, seperti Stellarium untuk pelajaran perbintangan atau astronomi.

Dukungan FOSS pada dunia pendidikan membuat aktivitas belajar-mengajar semakin menarik. Mata pelajaran yang selama ini dipandang sulit akan terasa mudah dengan adanya fasilitas pemodelan dan gambar yang disediakan oleh perangkat lunak FOSS. Para siswa juga terbiasa dengan tradisi berbagi sehingga tercipta percepatan dalam pengembangan keilmuan.

Apakah artikel ini bermanfaat bagi Anda?
YaTidak