Yossy Suparyo
Ikuti:

asadessa dokumentasikan desa membangun

Asadessa menjadi film yang paling banyak ditonton oleh warga desa. Meski distribusi Asadessa tak melalui bioskop modern, namun tak juga memudarkan rasa penasaran publik untuk menontonnya. Dalam seminggu ada 3-5 kali acara nonton bareng yang digelar beragam komunitas dan masyarakat perdesaan. Publikasi atas film juga terbilang bagus, hal itu tak lepas dari peran para netizen yang terlibat aktif dalam penyebaran informasi.

Apa itu Asadessa? Asadessa merupakan film bergenre dokumenter dengan panjang durasi 49 menit. Film ini lahir berkat kerjasama ICT Watch, Relawan TIK, Gerakan Desa Membangun, dan Watchdoc. Lewat perbincangan-perbincangan santai di kawasan Tebet muncul gagasan untuk membuat film dokumenter yang berisi praktik pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di wilayah perdesaan.

Sebagai film dokumenter, Asadessa diharapkan mampu menjawab tiga pertanyaan besar, yaitu (1) apakah perubahan yang terjadi pada masyarakat perdesaan yang sudah memanfaatkan internet; (2) bagaimana perilaku masyarakat perdesaan saat memanfaatkan internet; dan (3) bagaimana cara masyarakat perdesaan mendapatkan akses internet. Sebuah target yang ambisius, terlebih semua pertanyaan itu dapat terjawab hanya dengan menonton sebuah film.

Pertama, pemanfaatan teknologi informasi (baca: internet) telah menyebabkan perubahan besar di masyarakat. Ada perubahan yang positif, ada pula yang negatif. Ironisnya, publik lebih banyak mendapatkan informasi tentang dampak buruk internet dibanding peluang dan kesempatan yang terbuka lebar apabila masyarakat mampu memanfaatkan teknologi secara benar. Tak jarang orang tua khawatir bila anak-anak mereka mulai berhubungan dengan internet. Beragam peristiwa kejahatan di Internet, baik penipuan maupun kekerasan, menjadikan teknologi ini sebagai momok baru bagi masyarakat. Internet lahir sebagai musibah bagi peradaban manusia.

Asa baru lahir dari praktik baik pemanfaatan internet justru dipelopori oleh masyarakat yang tinggal di perdesaan. Lewat Gerakan Desa Membangun (GDM), ribuan desa mampu memanfaatkan teknologi informasi untuk hal-hal yang positif, seperti memperbaiki pelayanan publik, pengelolaan sumberdaya desa, pemasaran online, bahkan sumber belajar dalam penyelesaian-penyelesaian permasalahan sehari-hari. Asadessa berusaha untuk merekam gerak mereka untuk melahirkan diskursus tandingan atas citra buruk internet. Asadessa melihat internet sebagai berkah sehingga beragam perubahan lahir berkat dukungan teknologi ini.

Kedua, peran literasi informasi sangat penting dalam pemanfaatan internet. Daya literasi ditandai oleh keseimbangan antara praktik konsumsi dan produksi atas informasi. Sebagian besar masyarakat berhubungan dengan internet dalam bingkai konsumsi informasi. Uniknya, praktik konsumsi acapkali dilanggengkan oleh dunia pendidikan. Ada adagium, internet menyediakan seluruh informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Tak heran, mencari (searching) dan berselancar (surfing) menjadi perilaku utama pengguna internet di Indonesia.

Dalam pencarian informasi, tak jarang pengguna menemukan konten negatif, seperti pornografi, hoax, SARA, maupun kekerasan. Tanpa dasar literasi informasi yang cukup, para pengguna acapkali terpengaruh oleh konten negatif tanpa disertai sensor. Mengutip pendapat para psikolog, pengguna dengan mekanisme pertahanan diri (self depend mechanism) yang lebah cenderung menjadi korban dari fenomena banjir informasi tersebut.

GDM melahirkan tradisi baru dalam berhubungan dengan internet. Mereka cenderung menempatkan internet sebagai alat produksi. Internet merupakan alat untuk memperkenalkan potensi dan produk unggulan yang ada di desa. Mereka juga berbagi gagasan dan pengalaman secara aktif. Kendala jarak geografis mampu diatasi oleh internet. Secara rutin, potensi dan produk desa diunggah melalui website desa maupun media sosial. Meski mereka tinggal di desa, beragam produk bisa dipasarkan secara luas melalui internet. GDM juga mengembangkan layanan akses internet bagi masyarakat sebagai media literasi masyarakat pada internet.

Literasi informasi dimaknai sebagai daya melek masyarakat saat berhubungan dengan beragam informasi yang berseliweran di internet. Literasi informasi membantu masyarakat untuk memilah dan memilih informasi secara kritis. Masyarakat bisa memperbaiki taraf hidup mereka karena mampu memilih keputusan yang tepat. Inilah yang disebut oleh Teskey (1992) sebagai masyarakat informasi.

Kelahiran masyarakat informasi menggeser pendekatan berbasis aset menjadi pendekatan berbasis pengetahuan. Daya kompetitif masyarakat bertumpu pada kualitas sumber daya manusia, bukan semata-mata pada kekayaan maupun sumberdaya alam yang mereka miliki.

Ketiga, ketimpangan infrastuktur teknologi informasi. Ketimpangan infrastruktur terjadi di Pusat-Daerah, Jawa-Luar Jawa, Daratan-Kepulauan, dan Kota-Desa. Masyarakat perkotaan lebih mudah mengakses TIK. APJII (2011:xii) melaporkan masyarakat kota menikmati 88,32% sinyal kuat dan 89,32% internet kabel. Sedangkan masyarakat yang tinggal di desa hanya 30,95% sinyal kuat dan 23,03% internet kabel.

Institusi-institusi bisnis, yang menjadi tulang punggung penyediaan informasi tersebut, cenderung enggan masuk wilayah perdesaan sehingga masyarakat desa membayar mahal atas layanan infrastuktur yang dinikmatinya. Bisa jadi kondisi itu ikut menyumbang peningkatan angka kemiskinan di wilayah perdesaan, Biro Pusat Statistik (2014) mencatat jumlah penduduk miskin di desa mencapai 17.371.009 atau sekitar 13,76%.

Bagi masyarakat perdesaan, Asadessa menjadi media pengantar untuk diskusi antarwarga. Warga juga dapat belajar dari langkah cerdas yang diambil oleh sejumlah desa yang terekam dalam film. Asadessa merupakan rujukan yang baik bagi siapapun dan pihak manapun yang ingin menerapkan rekayasa sosial di dunia perdesaan.

Asadessa mampu merekam gerak imajinasi desa untuk keluar dari bingkai pelabelan negatif, seperti keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan. Asadessa menandai kebangkitan kebermartabatan desa.

%d blogger menyukai ini: