Yossy Suparyo
Ikuti:

Arief Setyabudi berbagi strategi pengembangan industri skala desa di Oemah Gedhe

Bangsa Indonesia patut bangga karena mewarisi gen orang-orang hebat tingkat dunia. Nenek moyang kita mampu mewujudkan kebermartabatan dalam dunia tata pemerintahan, arsitektur, perkapalan, hingga saintifik. Mereka meninggalkan artefak dan peradaban adiluhung yang diakui oleh dunia.

Sebagai pewaris gen orang hebat, kita harus mampu berpikir dan berjiwa besar. Oemah Gedhe harus menjadi ruang yang memacu dan memicu beragam inovasi, terutama dalam tata kelola desa dan pemberdayaan masyarakat. Konsep Oemah Gedhe sebagai rumah bersama para inovator dan pemberdaya desa sudah tepat.

“Di sini lahir para pemikir, pelaku, dan rekayasawan yang membawa pembaharuan di desa,” ujarnya.

Demikian pendapat Arief Setyabudi, Team Leader Konsultan Nasional Pengembangan Program (KNPP) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi dalam Open House Oemah Gedhe, Selasa (17/1) di Oemah Gedhe Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Dia berbagi pengalaman tentang strategi pengembangan industri skala desa bersama para pegiat perdesaan di Banyumas.

Bagi Arief, artefak sejarah seperti candi, jalan, dan irigasi yang diwariskan nenek moyang membuktikan kala itu telah berkembang ilmu pengetahuan yang tinggi. Ambil contoh, teknologi pengendalian banjir dan sistem pengairan sudah berkembang pada era Kerajaan Tarumanegara.

“Untuk mengendalikan banjir dan irigasi untuk pertanian wilayah Jakarta saat ini, maka Raja Purnawarman menggali sungai Candrabaga yang menghubungkan Sungai Citarum dan Cisadane,” lanjut Arief.

Di kawasan Candi Gedong Songo di puncak Gunung Ungaran, tepatnya di Desa Candi, Kecamatan Somawono, Semarang, kita dapat menyaksikan jalan yang hanya terbuat dari batu di tata. Pengetahuan dalam menata batu sangat unik. Batu-batu berbentuk tak beraturan ditata sedemikian rupa sehingga antarbatu saling berkaitan.

“Cara menata batu itu menunjukkan teknologi jalan raya modern telah berkembang. Amazing.”

Bermodal ilmu pengetahuan dan teknologi dari nenek moyang kita, nasib bangsa Indonesia tak pantas untuk terpuruk. Dalam setiap artefak dan kehidupan masyarakat desa berkembang banyak kompetensi. Ada ahli batu, ada ahli kayu, ada arsitektur, ada ahli tempa, ada ahli geologi, dan ada ahli patri.

“Semua kompetensi itu berkembang secara alami karena berkah genetik yang kita warisi,” tegasnya.

%d blogger menyukai ini: