Gedhe Nusantara

Pendahuluan

Information is the most dangerous weapon of all! Informasi diyakini sebagai senjata yang paling berbahaya yang pernah ada di sepanjang peradaban manusia. Ribuan perang dan cinta antarmanusia tidak akan terjadi tanpa diawali oleh pertukaran dan penyebaran informasi. Mengutip kata Sun Tzu, setiap peperangan selalu didasarkan pada bualan demi bualan.

Saat ini informasi tidak lagi menjadi kebutuhan sekunder, informasi telah bergeser sebagai komoditas primer. Tak heran, publik selalu memburu teknologi baru—gadget dan smartphone—yang mampu memudahkan mereka untuk mengakses dan memproduksi infomasi. Sejumlah perubahan sosial dan politik sangat dipengaruhi informasi yang diproduksi dan dikonsumsi oleh publik. Ada adagium, mereka yang menguasai informasi adalah pihak yang memiliki kekuatan.

Pakar komunikasi James Lull telah mengingatkan publik atas situasi di atas (1998: 68). Menurutnya, studio radio dan televisi telah menjadi bagian dari fasilitas teknis yang paling berharga dan dilindungi di belahan dunia manapun. Rezim penguasa selalu berusaha keras untuk memiliki hubungan baik dengan media massa
karena bila itu gagal maka akan menjadi tantangan paling serius terhadap otoritas publik. Kepemilikan dan kontrol terhadap media massa, khususnya elektronik, merupakan kekuatan sosial yang patut diperhitungkan meski dalam situasi yang stabil sekalipun.

Media massa merupakan bagian dari komunikasi massa yang memegang posisi penting dalam percepatan menyampaikan informasi terkini kepada masyarakat. Media massa sebagai saluran penyampaian informasi memiliki peran untuk (1) Pengawasan atau pencarian informasi; (2) mengembangkan konsep diri; (3) fasilitas dalam hubungan sosial; (4) subtitusi dalam hubungan sosial; (5) membantu melegakan emosi; (6) sarana pelarian dari ketegangan dan keterasingan; (7) sebagai bagian dari kehidupan rutin atau ritualisasi.

Pasca Reformasi 1998, perkembangan industri media massa berlangsung cepat. Perkembangan itu menyebabkan media massa tidak lagi sebagai institusi yang ideal dalam menyampaikan informasi yang akurat dan berimbang. Media massa juga menjelma berubah menjadi institusi kapitalisasi ekonomi bagi para pengusaha media.

Namun, keberadaan informasi tak serta merta menjadi pemicu perubahan. Tak ada jaminan, informasi secara otomatis menggerakkan pikiran dan raga seseorang untuk bertindak. Organisasi gerakan sosial harus memiliki kemampuan dalam membangun strategi komunikasi massa agar isu yang diusung mampu menjelma menjadi gagasan kolektif publik. Meminjam pendapat Zuniga (2008) informasi harus berjumpa dengan konten dan konteks yang tepat. Informasi harus menjadi pengetahuan agar berdaya dan mampu memberdayakan. Scienta potential est, knowledge is power.

Modul ini bertujuan untuk memberikan pemahaman konsep komunikasi massa, media massa, menyusun strategi komunikasi organisasi, dan mengembangkan media massa untuk penyebarluasan informasi organisasi bagi organisasi gerakan sosial.

Selengkapnya unduh di sini

%d blogger menyukai ini: