Gedhe Nusantara

Gedhe Foundation mendukung langkah desa-desa di Kabupaten Purbalingga untuk perangi informasi bohong, fitnah, dan ujaran kebencian (hoax). Gedhe berpandangan hoax merupakan tradisi buruk dalam dunia komunikasi yang harus ditinggalkan.

Pesatnya perkembangan internet di Indonesia membuat dampak hoax telah menyentuh masyarakat perdesaan. Hoax dapat memicu perpecahan antar elemen masyarakat, termasuk mencemarkan nama baik perseorangan maupun kelompok.

Dukungan di atas disampaikan Yossy Suparyo, Direktur Eksekutif Gedhe Foundation, Sabtu (4/2) dalam Juguran Desa, Medsos, dan Hukum di Desa Karangtalun, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga.

Menurutnya, dampak hoax dapat diminimalisasi melalui program literasi informasi sehingga masyarakat desa mampu memilah dan memilih informasi yang akan mereka akses maupun disebarluaskan.

“Masyarakat musti memiliki kemampuan untuk menentukan apakah informasi yang mereka dapatkan termasuk informasi hoax atau bukan. Kemampuan itu disebut literasi informasi,” jelas Yossy.

Indonesia sendiri telah memiliki piranti hukum untuk menjerat para penyebar informasi hoax. Ada UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Regulasi tersebut telah diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 251 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 5952.

“Intinya, masyarakat harus berani menyaring informasi yang beredar dan tidak sembarang meneruskannya. Aturan ini diharapkan mampu menertibkan penyebar hoax dan fitnah di internet, namun jangan sampai kebablasan,” lanjutnya.

Gedhe Foundation telah memfasilitasi banyak kegiatan literasi informasi di wilayah perdesaan melalui beragam Lokakarya Desa Membangun (LKM). Kegiatan itu memberi pemahaman mendasar tentang perilaku berinternet yang produktif dan kreatif.

%d blogger menyukai ini: