Gedhe Nusantara

Gedhe Nusantara (Gedhe Foundation) mendorong desa mempraktikkan pendekatan inovasi agar kualitas program pembangunan dan pemberdayaan desa semakin baik. Selain mengadopsi inovasi, Gedhe memfasilitasi desa untuk mampu melahirkan dan berbagi inovasi dengan dukungan manajemen pengetahuan dan pemanfaatan teknologi informasi.

Demikian pendapat Direktur Gedhe Foundation, Yossy Suparyo, dalam studi banding Kementerian Administrasi Negara Pemerintah Timor Leste di Desa Sidamukti, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka, Senin (7/8). Yossy percaya setiap desa memiliki kemampuan yang unik untuk menyelesaikan setiap masalah dan tantangan.

“Desa Sidamukti dengan kontur daerah di pegunungan terjal mampu mengembangkan perkebunan mangga gincu. Lalu, mereka mulai melirik teknologi pasca panen untuk melahirkan produk olahan mangga,” ujarnya.

Masyarakat Desa Sidamukti tidak puas dengan hasil dari penjualan mangga secara langsung. Meski, mangga gincu asal Sidamukti mendapat apresiasi pasar yang bagus, baik pasar dalam negeri maupun luar negari, mereka terus berkreasi tanpa henti.

“Inovasi lahir dari kejelian kita untuk melihat celah baru dari kebiasaan-kebiasaan sehari. Setiap penemuan dan cara baru dapat diolah menjadi inovasi,” lanjutnya.

Ketrampilan mengelola pengetahuan menjadi modal utama masyarakat desa, baik untuk mengadopsi maupun melahirkan inovasi. Berkat dukungan teknologi informasi, desa semakin mudah mendokumentasikan pengetahuan dan pengalaman mereka dalam menyelesaikan masalah menjadi produk inovasi desa.

Pengelolaan pengetahuan menempatkan kehidupan di desa sebagai lingkaran belajar dan pendewasaan karakter. Bahkan, sejumlah kalangan optimis, inovasi menjadi kunci utama bagi desa untuk menghadapi tantangan-tantangan di kemudian hari.

“Ada pepatah, hanya keledai yang terperosok di lubang yang sama hingga dua kali. Desa bisa belajar dari Ppengalaman baik maupun pengalaman buruk yang mereka alami,” pungkas Yossy, pria asal Cilacap itu.

Kunjungan Pemerintah Timor Leste ke desa-desa di Kabupaten Majalengka bertujuan untuk belajar praktik ekonomi desa. Mereka tengah menyusun program pemberdayaan masyarakat suku (desa) sehingga butuh studi banding ke desa-desa di Indonesia.

%d blogger menyukai ini: