Gedhe Nusantara

Paham nasionalisme tengah diuji. Beragam upaya untuk mengoyak integrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terus menerpa negeri ini. Semua gejolak disintegrasi dapat diredam apabila desa memainkan peran strategis, yaitu menumbuhkan nasionalisme ala kampung.

Disintegrasi bisa lahir akibat ketidakadilan, kesenjangan sosial, radikalisasi agama, primordialisme kesukuan, ada juga perbedaan ideologi. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) lahir sebagai perwujudan konsep negara bangsa (nation state) sehingga penghargaan atas pluralisme, keragaman suku, dan inklusivitas keagamaan menjadi fondasi utama.

Negara bangsa telah lahir. Nasionalisme maujud dalam slogan Bhineka Tunggal Ika, Berbeda-beda tetap satu juga. Nilai dan prinsip kenegaraan mendasarkan pada Pancasila sebagai dasar negara. Konstitusi memastikan NKRI tetap menghormati dan menghargai beragam tatanan masyarakat dalam kesatuan masyarakat hukum.

Mengapa Desa? Desa merupakan kesatuan masyarakat-pemerintah terkecil dalam tata perundangan di Indonesia. Pengakuan dan penghormatan negara atas keanekaragaman bentuk dan budaya desa menjadi titik tolak untuk menumbuhkan nasionalisme dari desa.

Lewat UU No 6 tahun 2014 tentang Desa, NKRI berniat untuk membangun kontrak baru antara Negara-Desa. Desa mendapat sejumlah kewenangan untuk mengatur dan mengurus masyarakat menurut hak asal-usul dan hak tradisional mereka.

Nasionalisme sendiri lahir dari rahim negara bangsa (nation state). Nasionalisme mengandaikan adanya adalah kedaulatan sebuah negara (nation) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia yang mempunyai tujuan atau cita-cita yang sama dalam mewujudkan kepentingan nasional.  Singkatnya, nasionalisme merupakan rasa ingin mempertahankan negaranya, baik dari internal maupun eksternal.

Para pendiri bangsa mengajarkan nasionalisme Indonesia sebagai nasionalisme inklusif, yaitu nasionalisme yang bercirikan keterbukaan (inklusif), tidak tersekat oleh latar belakang etnis, agama dan bahasa.

Nasipnalisme Indonesia mendasarkan diri pada perasaan senasib dan seperjuangan, yaitu sama-sama senasib dijajah oleh Belanda dan mempunyai keinginan kehidupan yang lebih baik dan sederajat dengan bangsa merdeka lainnya.

%d blogger menyukai ini: