Gedhe Nusantara

payung kertas kalibagor

Festival Payung Indonesia yang diadakan di Taman Bale Kambang, Solo pekan lalu (11-13/9) menjadi ajang bertemunya para pengusaha dan pengrajin payung kertas dari desa-desa di Indonesia. Salah satu desa yang kebanjiran pesanan payung adalah Desa Kalibagor, Banyumas.

“Saya memiliki cafe dengan konsep etnik di Jakarta, sengaja datang ke Solo mau beli payung untuk hiasan cafe itu”, ujar Didi (41), pemilik cafe. Mendapatkan harga lebih murah karena membeli langsung ke pengrajin payung juga salah satu alasan yang diungkapkan Didi.

Taufik Rahzen, penggagas World Culture Forum  (WCF) yang menjadi steering committee Festival Payung bahkan langsung memesan 100 buah payung kertas Kalibagor. Taufik akan menjadikan payung kertas sebagai trend baru masyarakat saat menonton pertandingan balap kuda dan karapan kerbau di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. “Di Sumbawa cuaca kan panas, nah payung kertas ini bisa nutupin panas waktu nonton balap kuda atau karapan kerbau disana, nantinya bisa jadi tren baru juga”. Karakter payung kertas Kalibagor yang sederhana menjadi alasan Taufik memilihnya karena cocok digunakan kegiatan masyarakat sehari-hari. Selain memesan payung, sebagai penggagas WCF, Taufik juga tertarik memberikan beasiswa di Institut Seni Budaya Sumbawa kepada salah satu pemuda pengrajin payung kertas Kalibagor.

Pemerintah sendiri saat ini sedang berusaha mengangkat produk-produk desa dalam rangka persiapan menyambut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) agar produk-produk desa dapat bersaing dengan produk luar.

Desa Kalibagor merupakan salah satu desa dalam jaringan Gerakan Desa Membangun di wilayah Banyumas. Dalam kegiatan Festival Payung ini Gedhe Foundation memberikan dukungan publikasi dan kampanye melalui teknologi informasi untuk mengangkat produk desa Kalibagor.

Apakah artikel ini bermanfaat bagi Anda?
YaTidak