- Penyerahan SK Koperasi di Desa Sarwadadi Tandai Berakhirnya Pendampingan dan Penguatan Perhutanan Sosial - 23 Februari 2026
- Perkuat Tata Kelola Lahan, LPHD Sidadadi Belajar Sistem Agroforestry Durian dan Koperasi ke Banyumas - 13 Februari 2026
- Gedhe Nusantara Luncurkan 1.000 Katalog Inovasi Desa untuk Percepatan Pembangunan Nasional - 7 Januari 2026
CILACAP, 13 Februari 2026 – Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPDH) Sidadadi, Kecamatan Kawunganten, Kabupaten Cilacap, melaksanakan kunjungan belajar ke Kabupaten Banyumas pada 12-13 Februari 2026. Kegiatan yang diikuti oleh 20 orang peserta (laki – laki dan perempuan) ini difokuskan pada penguatan kapasitas anggota dalam mengelola calon areal perhutanan sosial melalui praktik nyata sistem agroforestri dan tata kelola koperasi multipihak.
Kunjungan yang didampingi oleh Gedhe Nusantara ini menyasar dua lokasi utama yang menjadi pusat inovasi ekonomi kerakyatan di Banyumas: Desa Ketenger (Kecamatan Baturaden) dan Desa Alasmalang (Kecamatan Kemranjen).
Koperasi Multipihak Mitra Jenggala
Di Ketenger, peserta belajar dan melihat langsung praktek pengembangan usaha wisata alam yang dipelopori oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Gempita yang kemudian berkembang menjadi koperasi multipihak.
Dalam sambutannya, Purnomo selaku Ketua LMDH Gempita sekaligus Ketua Koperasi Multipihak Mitra Jenggala mengatakan susah payah dalam merintis usaha dengan modal gotong royong bersama masyarakat. Dengan kondisi serba terbatas dan minimnya modal, tanpa kebersamaan mustahil akan mencapai kondisi seperti hari ini,”ujar Purnomo saat menyampaikan paparan kepada peserta kunjungan belajar koperasi dan agroforestry dari LPHD Sidadadi Cilacap.
Lebih lanjut Purnomo menuturkan, seiring bertumbuhnya usaha,bentuk kelembagaan perlu mengikuti perkembangan,untuk itu pengurus LMDH bersama pendamping Perhutanan Sosial berkonsultasi dengan beberapa tokoh diantaranya Noer Fauzi Rachman yang saat itu menjabat sebagai Dewan Pengawas Perhutani dan Agus Santoso selaku Staf Ahli Menteri Koperasi. Pada saat konsultasi, Agus Santoso mengatakan LMDH perlu menjadi badan hukum usaha yang bernafaskan kerakyatan namun modern, pilihannya tidak lain yaitu Koperasi Multipihak.
Atas saran Noer Fauzi Rachman dan Agus Santoso, beberapa bulan kemudian koperasi dibentuk, langkah pertama yang dilakukan adalah mendata kontribusi masyarakat yang pernah ikut merintis usaha wisata . Dulu saat masih dikelola LMDH kontribusi seperti tenaga kerja dan material tidak pernah dihitung, dasarnya karena ikhlas, namun setelah menjadi koperasi kontribusi terkonversi dalam bentuk saham. Keuntungannya ketika suatu saat masyarakat pemilik saham tua, sakit dan atau meninggal dunia maka masa depan keluarganya akan mendapat jaminan dana pensiun berbentuk deviden,”tutur Purnomo mengakhiri paparan.
Inovasi Agroforestry Durian Bawor
Kunjungan berikutnya pada hari ke-2 di Desa Alasmalang Kecamatan Kemranjen Banyumas. Di desa ini peserta mempelajari teknik budidaya Durian Bawor, varietas unggul asli Banyumas yang baru-baru ini resmi didaftarkan sebagai Indikasi Geografis untuk melindungi kekayaan intelektual lokal. Durian Bawor dibudidayakan dilahan hutan rakyat dengan menggunakan teknik budidaya agroforsty, yaitu sistem tanaman campuran dengan jenis tanaman lainnya, seperti Jengkol, Petai, Kelapa dan tanaman kayu lainnya.
Selain mempelajari sistem budidaya agroforestry, secara khusus peserta belajar teknik Sarakapita, yaitu penggabungan berbagai jenis durian dalam satu pohon melalui okulasi yang menghasilkan pohon dengan banyak akar kaki, lebih kokoh, dan lebih cepat berbuah (sekitar usia 3 tahun).
Sarno selaku tokoh inovaor Durian Bawor menjelaskan durian jenis ini yang memiliki keunggulan berupa daging buah yang sangat tebal, biji kecil, serta perpaduan rasa manis legit dengan sedikit sentuhan pahit. “Penerapan teknik budidaya durian di lahan hutan rakyat diharapkan dapat memberikan manfaat ekologi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi petani secara signifikan,” lanjut Sarno dari Bhineka Durian Bawor saat menyampaikan paparannya.
Durian Bawor mulai berbuah pada umur 3 s.d 5 tahun. Jika 1 pohon berbuah 20 butir dengan rata – rata berat 3 kg, setiap musim panen petani bisa memperoleh keuntungan 6 juta rupiah per pohonnya (harga durian Bawor 100 ribu/kg). Jika dalam 1 hektar lahan ditanam 70 pohon, maka potensi pendapatan petani dapat mencapai 420 juta setiap kali panen. Belum pendapatan dari tanaman lainnya yang berumur lebih pendek, misalnya cabai, pisang dan sayuran,” tutur Sarno saat memotivasi peserta.
Lebih lanjut Sarno mengatakan agroforestry dengan tanaman Durian ini bisa menjadi modal tabungan keluarga, karena untuk pendapatan sehari – hari bisa dari bertanam hortikultura seperti sayuran, buah – buahan, dan tanaman pangan. Lahan hutan yang sangat luas di Cilacap bisa didesain menjadi lahan yang produktif yang mampu menopang perekonomian sekaligus menjaga lingkungan. Sarno sebagai pensiunan guru SD mengaku biaya untuk menyekolahkan anak – anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi karena hasil dari bertani durian.
Selain memberikan motivasi usaha, Sarno juga membagikan beberapa tips budidaya durian Bawor dan jenis tanaman lainnya, seperti Alpokat, Jeruk dan Anggur. Dalam melakukan budidaya tanaman yang sehat harus memperhatikan jenis tanah, suhu dan kelembaban. Dengan demikian dapat dipilih dengan tepat jenis dan jumlah pupuk yang akan digunakan untuk pemupukan dasar. Pada umumnya, jenis pupuk dasar berupa kotoran ternak yang dicampur sekam. Setelah tanaman mulai tumbuh, perlu dirawat tajuk – tajuknya agar dahan tidak terlalu banyak tumbuh sehingga menggangu proses pembuahan atau fase generatif. Untuk masa-masa menjelang pembuahan bisa menggunakan pupuk NPK yang dibeli ditoko atau membuat sendiri dari bahan-bahan organik. Mengakhiri paparannya, Sarno mengajak peserta untuk berkunjung ke kebunnya sembari mencicipi cita rasa durian Bawor yang unik.
Kesan – Kesan Peserta
Setelah belajar selama 2 hari di Desa Ketenger dan Desa Alasmalang, Resti salah serorang peserta kunjungan belajar mengaku termotivasi untuk menanam durian di lahan calon perhutanan sosial, tujuannya agar lebih produktif dan ramah lingkungan dan bisa menjadi tabungan hari tua.
Teguh sebagai Ketua LPHD mengatakan keinginanya untuk mengelola usaha khususnya untuk bidang pemasaran melalui kelembagaan koperasi. Karena selama ini petani menjual sendiri – sendiri hasil panennya melalui tengkulak, sehingga harganya jatuh.
Samdhana Institutes, Bogor, mendukung program pendampingan dan penguatan LPHD Sidadadi. Samdhana Institute adalah sebuah organisasi nonpemerintah (ornop) yang mendukung masyarakat adat dan komunitas lokal di Asia Tenggara untuk mencapai keadilan sosial dan lingkungan.(SS)

